Pertanyaan yang sering muncul adalah mungkinkah perbedaan agama dapat membuat kebencian atau terkotak-kotak dalam suatu kepercayaan yang berbeda. Namun semakin hari aku semakin sadar bahwa perbedaan bukanlah penyebab utama, melainkan ada sebab lainnya yang lebih sederhana. Ayo lihat bagaimana pengalamanku dengan bulan puasa.
Bulan Puasa adalah bulan yang mulia, diberkahi setiap detiknya. Amalan yang biasanya di hitung satu akan dihitung berkali-kali lipat jika dilakukan dibulan puasa. Bulan ini menjadikan pahala kewajiban dihitung ganda, sedangkan yang sunnah dihitung wajib pahalanya. Banyak orang yang mendadak tobat dibulan ini.
Puasa juga sering dijadikan alasan untuk tidak bekerja optimal. Seperti banyak sekolah atau pekerjaan yang libur, atau pulan cepat. Mudik lebaran juga salah satu alasan lainnya. Bermasal-malasan menjadi hal yang lumrah. Kegiatan diluar rumah juga diminimalisir di bulan ini. Namun disisi lain juga makanan yang tadinya biasa-biasa menjadi luar biasa dibulan ini. Pengeluaran juga menjadi meningkat dibanding hari-hari biasa.
Pengalaman saya adalah banyak sekali perbedaan agama yang ada di Indonesia yang mengkhawatirkan saya terhadap teman saya yang berbeda agama. Saya takut mereka minder untuk makan diluar karena takut dibully orang islam. Namun saya salah, justru orang islam sendiri yang dengan bebas lepasnya makan atau merokok di tempat ramai. Mereka seperti tidak sadar bahwa ini bulan puasa, dan hukumnya wajib bagi umat islam. Sungguh ironi diatas ironi.
Bagaimana mungkin bisa orang dengan agama lain bersusah paya untuk tidak makan minum ditempat umum dilingkungan penduduk mayoritas islam, sedangkan ada segelintir orang islam yang dengan bebasnya makan minum diluar. Pertanyaan baru timbul, kenapa mereka melakukan itu. Orang lain saja malu, bagaimana mereka. Mereka seolah-olah merdeka dengan mayoritasnya. Sedangkan minoritas harus bersusah paya untuk menyamakan kedudukan agar tidak dikucilkan.
Berbeda dengan bulan puasa di Indonesia yang notabenenya muslim. Perayaan hari keagaaman agama lainnya seperti kristen, hindu, dan lainnya tidak seramai hari perayaan islam. Mereka juga harus berjuang untuk bisa merayakan hari besar mereka, sedangkan penduduk dengan mayoritas ini seperti tidak mau tau. Lalu siapa yang berbuat tidak adil? Lalu jika ada suatu perselisihan, agama yang dijadikan penyebab. Masuk akal? tidak salah lagi? Sepertinya mayoritas selalu menang. Lihat saja di filipina yang membantai kaum muslim, tidak dijadikan suatu pelajarankah?
Jika kalian berada ditempat agama minoritas kalian, masih bisa kalian berlagak sok di tempat mereka?
Saya sangat heran, kenapa atas nama agama mayoritas kalian dengan mudahnya menganggap yang lain kecil?
Saling menghormati dan menghargai bisa mewujudkan toleransi yang berarti.
Seenaknya saja kalian hai mayoritas mencela penduduk mayoritas lainnya.
Bagi yang kurang paham, sederhananya begini.
Sebenarnya yang terjadi di Indonesia ini bukanlah perbedaan agama. Namun perbedaan pengetahuan dan kesopanan. Buktinya sama-sama mengaku muslim, tapi dibulan puasa masih makan minu dan merokok di sembarang tempat, khusus untuk merokok yang tidak bulan puasa saja sudah sangat menganggu, apalagi di bulan puasa. Banyak pemiliki restoran yang memiliki kepercayaan selain islam sengaja menutup restorannya, sedangkan restoran berlebel HALAL buka 24 jam dibulan puasa, dan jumlah pengunjungnya bertambah karena banyak restoran biasa yang tidak buka. lagi lagi sungguh memilukan.
Catatan ini kubuat karena merasa kesal dengan keadaan umat muslim yang etisnya semakin memudar karena label mayoritas. Mereka seolah-olah terlindungi dengan label mayoritas. Semoga saja mereka ditempatkan di lokasi yang minoritas islamnya, sehingga mereka sadar apa itu perjuangan beragama yang sesungguhnya.
Intinya, agama lain sudah toleran dengan bulan puasa, namun ada beberapa orang yang sangat bebas tidak mengakui agamanya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar