Pages

Mahasiswa Aksi = Keren

Berawal dari kebanyakan mahasiswa pada zaman Orde lama dan Orde baru. Banyak gerakan pemuda yang di kekang oleh pemerintah. Media juga tak luput dari pengawasan ketat oleh pemerintah. Pemerintah menggunakan tenaga militer untuk memukul mundur mahasiswa yang berani menentang kebijkan pemerintah.

Namun, saat ini.

mungkinkah hal ini masih berlaku di masa reformasi?

Yang mana notabene militer tidak begitu memiliki hak untuk berkuasa. saat ini polisi yang menjaga keamanan saat terjadi aksi dijalan (katanya). Di zaman reformasi ini, apakah mungkin pemuda akan menang jika masih mengandalkan aksi ke jalan. Perang pemikiran sebenarnya sudah terjadi dari dulu. tapi di era reformasi ini, penggunaan otak lebih besar dari pada menggunakan otot.

lihat saja, isu yang berkembang di kalangan pemuda bahwa 20 mei 2015 akan terjadi demo besar-besaran di seluruh Indonesia. Yaa... katanya untuk mengkritik kebijakan presiden baru yang semakin memberatkan rakyat. Namun, sebelum itu terjadi, sudah ada undangan dari presiden untuk makan bersama. Semua ketua BEM di beberapa universitas di Indonesia di undang, dan makan bersama. Lihat saja foto itu tersebar dengan begitu cepatnya. Mungkinkah itu hanya isu, mungkin juga hanya akal-akal pemerintah dan media untuk memalukan pemuda terutama mahasiswa.

Lihat setelah itu terjadi. banyak sekali yang mnghujat perbuatan aneh itu. Demo besar-besaran akhirnya tidak jadi, semua sudah tergadai dengan makan malam bersama presiden. Namun, banyak juga yang menganggap itu hal yang luar biasa, dari pada panas-panas ikut aksi, mennding langsung saja menyampaikan aspirasi dengan presiden secara langsung, plus diajak makan pula.

intinya pemuda ingin suaranya didengar. Lalu, kenapa makan bersama presiden itu dianggap penghianant negara. Emang demo ke jalan terus menerus itu dianggap keren? Kalau bisa langsung menyuarakan dengan presiden itu lebih baik bukan?

Tapi, masalahnya bukan disitu. Apa saja yang didiskusikan saat itu tidak di publish oleh media. Entah berbicara soal apa saat jamuan makan bersama itu. Seolah-olah suara pemuda bisa dibeli dengan makan bersama presiden. tidak ada lagi suara pemuda di jalan, di jejaring sosial dan sebagainya. saat ini yang ada hanyalah pemuda mengejek pemuda itu sendiri. Lu sekali bukan?

Jika saya bandingkan dari dulu sampai sekarang jadi ceritanya begini:
Zaman Orla itu Negarawan melawan Penjajah asing
Zaman Orba itu Negarawan sudah samar-samar, mana musuh mana kawan, melawan bangsa sendiri yang telah menjadi kaki tangan pihak asing
Zaman Reformasi itu Ngakunya Negarawan yang entah berpihak negara atau bukan, melawan teman sendiri yang tidak berani turun kejalan
entah zaman apa lagi nantinya yang antara teman satu negara pun akan saling tonjok-tonjokan

Lalu, masih berpikir ini bukan setingan orang lain untuk melemahkan pemuda itu sendiri. Kalau memang kamu peduli dengan rakyat kecil, buktikan dengan menjadi pelajar yang tangguh yang bisa mengubah kehidupan mereka. Jangan Cuma berkoar di media sosial. Buktikan itu dengan membantu mereka sesuai dengan kemampuan kalian, bisa materi, pemikiran atau tenaga, tinggal pilih, dan tidak susah kalau di jalanin.

Masih berpikir turun kejalan itu keren. Orang lain hanya propaganda dari kejauhan, eh,... pemuda malah aduh tonjok di media sosial. Lucu sekali bukan. Ehh,,, yang turun kejalan Cuma sedikit loh, katanya keren?

Umaru

Selalu belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi menuju Ridho Sang Ilahi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar